admin

Fajar Harapan

Quaver Vocal Ensemble presents:

FAJAR HARAPAN

Performing Ismail Marzuki’s music.

Tuesday, 14 May 2019 at 19.30 in Galeri Indonesia Kaya

Reserve your seat:

https://www.indonesiakaya.com/event

 

Ismail Marzuki (also known as Bang Ma’ing; 11 May 1914 – 25 May 1958) was an Indonesian composer, songwriter and musician who wrote around 202 to 240 songs between 1931 and 1958, including numerous popular patriotic songs. Among his best-known works are “Halo, Halo Bandung”, “Gugur Bunga”, and “Rayuan Pulau Kelapa”. In 1968, he was honoured with the creation of the well-known Taman Ismail Marzuki (the Ismail Marzuki Park, often called TIM) which is a cultural centre in Menteng in central Jakarta. In 2004 he was declared one of the National Heroes of Indonesia. (source: Wikipedia)

Cahaya Purnama

The idea of this piece came after my devotion to the moon. I always feel that the moon gives us a sense of intimacy, thus it brings hope to those who need it. This piece won the 2nd prize in secular music category in choral composition competition on Satya Dharma Gita National Choir Festival 2017.

This version was recorded at GPIB Sangkakala at February 16, 2019. I am so honoured to have Paramabira and Quaver Vocal Ensemble collaborating under the direction of Rainier Revireino.

CAHAYA PURNAMA

Gelap malam t’lah menyapa bertahta cah’ya sang purnama
Memupus kerinduan jiwa pada terang
Sang purnama bercahaya dan memukau para insan
Tak rela bila dia digantikan mentari fajar
Dan bintang menari, memuja rembulan yang bersinar terang
Sang purnama t’lah merasuk hayat dengan rasa cinta
Bintang-bintang berkelip di angkasa
menyerukan pujian untuk sang purnama
Sang purnama merajut asa, memadu kasih, menggugah jiwa
Sang purnama ciptakan asa
Cahaya purnama,
Cahayanya penuh cinta
menyalakan pengarapanku.

Jakarta, June 27th, 2017 (revised on October 2nd, 2017)

A Day Full of Love

Today, on the 14th of February, a lot of people around the world celebrate Valentine’s day. For me, it used to be a day when people send cards, flowers, chocolates, or maybe gifts. But now I am a grown-up, I learned that even though love should not only shown on a particular day, but it is still important to express our love towards others. And today, I saw so many love spread around my social media feeds, which makes me think, I might need to spread some love too!

Last month I had my very first vocal recital done. I have reached my checkpoint, of course with all the good and not-so-good things happened, and I surely earned new knowledge by both kind of experiences.

This is one of my favourite love song me and my friend Nesca have performed on the recital, composed by Robert Schumann (1810-1856) based on the text written by Adelbert von Chamisso (1781-1838). The English translation below is provided by Daniel Platt.

Du Ring an meinem Finger,
  Mein goldnes Ringelein,
Ich drücke dich fromm an die Lippen,
  Dich fromm an das Herze mein.

Ich hatt' ihn ausgeträumet,
  Der Kindheit friedlich schönen Traum,
Ich fand allein mich, verloren
  Im öden, unendlichen Raum.

Du Ring an meinem Finger,
  Da hast du mich erst belehrt,
Hast meinem Blick erschlossen
  Des Lebens unendlichen, tiefen Wert.

Ich will ihm dienen, ihm leben,
  Ihm angehören ganz,
Hin selber mich geben und finden
  Verklärt mich in seinem Glanz.

Du Ring an meinem Finger,
  Mein goldnes Ringelein,
Ich drücke dich fromm an die Lippen,
  Dich fromm an das Herze mein.
Thou ring on my finger, 
my little golden ring, 
I press thee piously upon my lips 
piously upon my heart. 

I had dreamt it, 
the tranquil, lovely dream of childhood, 
I found myself alone and lost 
in barren, infinite space. 

Thou ring on my finger, 
thou hast taught me for the first time, 
hast opened my gaze unto 
the endless, deep value of life. 

I want to serve him, live for him, 
belong to him entire, 
Give myself and find myself 
transfigured in his radiance. 

Thou ring on my finger, 
my little golden ring, 
I press thee piously upon lips, 
piously upon my heart.

Happy Valentine's Day!

Kajian Musik 2

Terdapat beberapa elemen dasar pada sebuah partitur. Garis paranada atau staf, terdiri dari 5 garis dan 4 ruang. Staf merupakan tempat not diletakkan. Pada instrumen-instrumen khusus seperti perkusi tidak bernada (unpitched percussion), jumlah garis dapat berbeda, misalnya pada Djembe hanya terdapat 3 garis saja.

Staf dengan 5 garis dan 4 ruang

Staf dengan 3 garis dan 2 ruang

Untuk mengidentifikasi tinggi rendahnya nada secara spesifik, dibutuhkan clef. Clef tertua disebut sebagai movable clef atau clef C, menandakan posisi nada C. Clef C kini masih dapat ditemukan di clef alto (pada partitur untuk viola) dan kadang clef tenor (pada partitur untuk trombon, bassoon, ataupun selo). Kemudian terdapat treble clef atau clef G yang menandakan nada tinggi dan bass clef atau clef F yang menandakan nada rendah.

alto clef untuk viola

treble clef

bass clef

Khusus untuk penyanyi tenor, pada umumnya menggunakan treble clef dengan tambahan “8” di bawah clefnya, menandakan agar dinyanyikan 1 oktaf lebih rendah.

treble clef untuk penyanyi tenor

Pada treble clef, garis ke-2 dari bawah merupakan nada G di atas middle C (disebut juga sebagai C4, akan dibahas lebih lanjut di kajian berikutnya), sedangkan pada bass clef, garis ke-4 dari bawah yang diapit oleh dua titik clef pada clef tersebut merupakan nada F di bawah middle C

nada G pada treble clef

nada F pada bass clef

posisi middle C pada clef

Untuk nada yang tidak dapat dituliskan di dalam sebuah staf karena terlalu tinggi atau terlalu rendah, terdapat garis bantu atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai ledger lines. Nada middle C sendiri berada di garis bantu pertama di bawah staf treble dan di garis bantu pertama di atas staf bass.

posisi middle C pada treble clef berada pada garis bantu pertama di bawah staf

Apabila jarak cakupan nada mayoritas melebihi garis dan ruang yang terdapat pada staf, komponis sering kali menuliskan notasi tersebut di dalam staf kemudian menambahkan tanda oktaf berupa 8va untuk menandakan agar memainkan nada lebih tinggi 1 oktaf, ataupun 8vb atau 8va below untuk menandakan agar memainkan nada lebih rendah 1 oktaf.

penggunaan tanda 8va dan 8vb. Contoh dapat di dengar di mp3 berikut.

 

Untuk alat musik perkusi tidak bernada seperti drum set, triangle maupun congo, clef yang digunakan disebut neutral clef. Penggunaan garis dan ruang dalam staf untuk perkusi pada umumnya adalah untuk mengetahui ritme dan instrumen yang dimainkan, misalnya pada drum set, tiap ruang dan garis menggambarkan instrumen yang berbeda-beda di dalamnya seperti hi-hat, crash cymbalc, kick, snare dan sebagainya.

neutral clef

 

Sumber:

Bent, Ian D. “Musical Notation.” Encyclopædia Britannica, Encyclopædia Britannica, Inc., 6 Jan. 2019, www.britannica.com/art/musical-notation.

Laitz, Steven Geoffrey. The Complete Musician: an Integrated Approach to Tonal Theory, Analysis, and Listening. Oxford University Press, 2008.

Kajian Musik 1

mu·sik n

1 ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinam-bungan; 2 nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu)

Kata “musik” berasal dari bahasa Yunani mousike, yang memiliki arti “kesenian para Musa” (art of Muses). Para Musa ini adalah 9 dewi kesenian dalam mitos Yunani yang dipimpin oleh Dewa Apollo. Apollo juga disebut sebagai Apollon Musegetes atau panglima Musa, dan ia dipercaya merupakan pencipta musik dawai. Kata “musik” juga diadaptasi dari bahasa Perancis Kuno musique dan Latin musica.

Penulisan musik dengan notasi balok yang kita ketahui sekarang ini juga dikenal sebagai Musik Barat (Western Music). Musik Barat yang ditulis di zaman Barok sampai dengan Romantik, disebut juga sebagai era Praktik Umum atau Common Practice (c. 1650-1900), dinamakan musik tonal. Sistem penulisan notasi balok telah mengalami berbagai perubahan bentuk sampai menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Keberadaan penulisan not balok ini tidak hanya sebagai bentuk dokumentasi untuk mengabadikan musik tersebut dari masa ke masa, tetapi juga membantu kita untuk menyanyikan atau memainkan musik sesuai dengan instruksi komponis atau aransirnya.

Komposisi yang ditulis pada era Praktik Umum memiliki titik gravitasi dengan sebuah nada menjadi pusatnya. Nada yang menjadi pusat orbit tersebut dinamakan tonik, dimana nada-nada lain bergerak mengitarinya dan fenomena ini dinamakan tonalitas.

Di dalam penulisan musik, terdapat beberapa elemen dasar musik yang disampaikan, yakni tinggi rendahnya nada (pitch), durasi, warna suara, serta besar kecilnya suara. Pada prakteknya, sulit sekali untuk mendapatkan seluruh informasi tersebut secara presisi, sehingga sering kali dilakukan penyesuaian interpretasi sampai dengan batas tertentu. Oleh karena itulah, dibutuhkan kemampuan untuk membaca partitur dengan baik agar dapat memainkan atau menyanyikan musik dengan tingkat ketepatan setinggi mungkin.

Sumber:

Bent, Ian D. “Musical Notation.” Encyclopædia Britannica, Encyclopædia Britannica, Inc., 6 Jan. 2019, www.britannica.com/art/musical-notation.

Laitz, Steven Geoffrey. The Complete Musician: an Integrated Approach to Tonal Theory, Analysis, and Listening. Oxford University Press, 2008.

Prier, Karl-Edmund. Sejarah Musik. Pusat Musik Liturgi, 2006.

Setiawan, Ebta. “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).” Arti Kata Karakter – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, kbbi.web.id/musik.

Aku Ada

Aku Ada, a song by Dewi Lestari featuring Arina. A good friend of mine, Fany, requested me to arrange this song for her as a remembrance to her beloved soulmate, Rian (1992-2017). We worked together to make this arrangement, and finally Quaver Vocal Ensemble has the chance to record this arrangement. Thank you to Cosmas for making the beautiful cover with calligraphy!

Rest in peace, Rian. We know that you are here for us.

Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku selain hatiku
Dan ombak berderu

Di pantai ini kau slalu sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat ku tiba
Suaraku memanggilmu akulah lautan
Ke mana kau s’lalu pulang

Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Kuingin kutahu engkau ada

Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku
Andai engkau tahu

Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan
Memeluk pantaimu erat

Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada

CHECKPOINT

check·point

/ˈCHekˌpoint/
noun
a place along the route of a long-distance race where the time for each competitor is recorded.

10 years ago, I was introduced to a deeper understanding about music for the first time. It was also the first time I sing in a choir, the first time I learned about how to sing properly.

6 years ago, I decided to learn more about singing techniques. I was very lucky to got Ko Akis to guide me in singing properly up until today.

With all the ups and downs, after all these years, I think this is the right time to reach my checkpoint, especially in singing. Ten years in music and six years in singing might not be a long time for others, but for me, within these years my life has changed for good, and it happens because of the music itself. Therefore, I am going to have my very first vocal recital. It is something special and totally new for me since I rarely sing solo on stage – (perhaps) I’d rather conduct a choir than to sing solo.

The recital will be held on January 26, 2019 in GoetheHaus Jakarta, the gate will be opened at 7 PM. I will perform some German lieder, Bach’s aria, and also some piece from musical such as Miss Saigon and Yentl. A very good friend of mine, Nesca Alma, will accompany me with her beautiful piano playing. I will also collaborate with some friends: Anita Anggraeni (by the way she is my piano teacher), Christine Tambunan, Indah Sri Wiharja, and Eduard Pratama Sundjojo.

You can book your ticket via Paulina +62 812  8794 218. I really hope you can come and support me to reach the checkpoint.

Thank you so much, and see you there!

It’s (Almost) Christmas!

It’s almost Christmas!

Early in October, Quaver was approached to join an online vocal group competition held by Mal Ciputra Jakarta. We decided to give a try, and Edo asked me to arrange a Christmas medley for this event, so I excitedly did. I made a simple a cappella arrangement, starting with a slow but sweet Merry Christmas, Darling by Carpenters, and then changing the mood with James Pierpont’s Jingle Bells continued with Johnny Marks’ Rudolph The Rednosed Reindeer and Sammy Cahn’s Let It Snow, and then finally back to Merry Christmas, Darling to end the song.

Yesterday I randomly asked if anyone on my Instagram is interested in having this arrangement for free, and there are plenty of people said yes. So I decided to share it here, feel free to use it under this condition:

You may copy and perform this piece, but please let me know if you do and send me the recording(s) of your performance, so I can listen to your version of this arrangement.

You can download the file here. I hope you enjoy!

Ave Maria

Ave Maria, gratia plena, Ave Dominus tecum

Benedictus in mulieribus et benedictus fructus ventris tui Iesu

Sancta Maria, Mater Dei, ora pronobis.

Amen.

A Song For You

My dear,
I wish that you are near
I’ll keep you inside my heart
Never be apart
 
The absence of the light
As the moon is dim tonight
Yet I celebrate your smile
You, who has been gone for a while.
 
My dear,
I wish that you are near
I’ll keep you inside my heart
Now that we are apart.